KPPU RI Mendorong Peternak Kemitraan BUMN

9 Februari 2017 17:38
Ketua KPPU RI, Syarkawi Rauf melakukan sidak dipasar terkait harga ayam

MAKASSAR, INIKATA.com — Harga yang tidak stabil dipasaran dan semakin berkurangnya peternak mandiri karena terisisih oleh perusahaan integrator memaksa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ambil andil dalam budidaya unggas.

Ketua KPPU RI, Syarkawi Rauf mengatakan perubahan Undang-undang (UU) Nomor 18 Tahun 2009 Tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan menjadi Undang-undang (UU) Nomor 41 Tahun 2014 menyebabkan adanya persaingan tidak sehat antara peternak mandiri dengan pengusaha integrator.

“Yang dimana dalam undang undang itu memberikan kesempatan kepada para pengusaha integrator melakukan budidaya dan masuk ke pasar tradisional yang dulunya diisi oleh peternak mandiri. Jadi wajar saja kalau peternak mandiri bertumbangan. ini yg menggerus pangsa pasar peternak mandiri,” kata Syarkawi kepada Inikata.com seusai melakukan sidak di Peternakan Ayam, Kamis, (9/2/2017).

Untuk menyelamatkan peternak mandiri, lanjutnya pemerintah mesti mendorong Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ambil andil dalam budidaya unggas,”Supaya apa?Jika selama ini peternak mandiri sulit bermitra, BUMN bisa menggandeng peternak mandiri ini. Menjamin pakannya, bibitnya dan jaminan pasarnya,” lanjutnya.

Karenanya, itu merupakan salah satu solusi yang bisa dapat dilakukan untuk mendorong peternak-peternak mandiri masuk dalam sistem kemitraan yang adil.

Baca juga: KPPU Tinjau Harga Cabai dan Daging di Pasar Tradisional

“Kehadiran BUMN ini menjadi sangat urgent didalam industri perunggasan kita secara nasional.

“Selain itu dapat menjaga kestabilan harga dipasaran khususnya harga ayam,” tutupnya.

Anggota Komisi VI DPR RI, Eka Sastra mengatakan dari tinjuan ke beberapa daerah seperti Malang, Jakarta termasuk Makassar, dapat disimpulkan adanya disparitas harga antara peternak dan pedagang yang cukup signifikan.

Baca juga: Mantan Menteri BUMN Silaturahmi ke Wali Kota Makassar

“Saat ini kita masih telusuri. Apa penyebab kenaikannya. Tapi dari informasi sementara yang didapat ada bandar-bandar besar yang canderung memiliki kemampuan untuk mempermainkan harga. Entah itu pasokan ke pasar ataukah langsung menyepakati harganya ke peternak,”katanya. (**)